Seluler Lebih Murah, Pangkas Tarif Tak Efektif
Penurunan tarif telepon sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) mulai hari ini dinilai belum bermanfaat besar bagi konsumen telekomunikasi. Karena itu, ke depan, pemangkasan tarif harus terus dilakukan.
Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo menyatakan, penurunan tarif tersebut memang bagus. Namun, ketika kepemilikan saluran telepon tetap (fixed line) di masyarakat terus menurun, tentu imbasnya tidak seberapa dirasakan konsumen pengguna jasa layanan telekomunikasi.
"Selama ini kan penetrasi penggunaan telepon seluler masih sangat besar dibandingkan telepon rumah," ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (7/4).
Menurut dia, seharusnya tarif telepon rumah lebih murah dibandingkan saluran seluler. "Dan saat ini hal itu belum terwujud," ungkapnya.
Contohnya, untuk percakapan zona 1 (30-200 kilometer) antara telepon rumah ke seluler pada pukul 08.00-20.00, tarifnya Rp 550 per 20 detik. Berarti, tarif per menit Rp 1.650. Begitu pula untuk telepon rumah ke telepon rumah. Pada zona 1 antara pukul 07.00-20.00, tarifnya mencapai Rp 1.100 per menit. Padahal, telepon lewat saluan seluler bisa lebih murah daripada tarif tersebut. "Karena itu, setidaknya telepon rumah itu harus lebih murah daripada ponsel," tegasnya.
Sudaryatmo menyatakan, manfaat penurunan tarif SLJJ oleh Telkom tersebut hanya dirasakan secara terbatas. Di samping turunnya tidak signifikan, penguasaan telepon rumah oleh masyarakat masih minim. "Turunnya kan rata-rata kecil. Hanya yang besar hingga 46 persen itu yang ditonjolkan di media massa," katanya.
Di tempat terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengungkapkan, penurunan tarif SLJJ tersebut setidaknya akan mengurangi beban dunia industri yang kini sedang mengalami banyak kesulitan akibat melambungnya harga minyak dan sulitnya pasokan energi alternatif dari dalam negeri. "Ya semoga saja di tengah banyaknya kesulitan, penurunan tarif tersebut akan mampu menggairahkan perekonomian, meski saya kira tidak akan signifikan," ujarnya kemarin (7/4).
Menurut dia, hampir semua sektor industri mempunyai kepentingan terhadap telekomunikasi, mulai industri makanan, semen, alat berat, hingga pertambangan. Kepentingan sektor industri terhadap telekomunikasi, kata Sofjan, terkait dengan persoalan distribusi produk hingga ke seluruh pelosok tanah air. "Kan banyak perusahaan dengan cabang-cabang di seluruh Indonesia. Kita kan berkomunikasi mulai pagi hingga malam untuk mengatur distribusi barang," jelasnya.
Meski demikian, dia meminta agar tarif telepon tersebut terus diturunkan. "Laba mereka kan sudah banyak setiap tahun. Apalagi, teknologi kian canggih. Ke depan harus lebih murah," tegasnya.
Pengusaha, kata dia, juga terus mendorong agar monopoli Telkom terus dikurangi. Begitu pula untuk sektor lain seperti PLN. "Dengan pengurangan monopoli tersebut, otomatis akan tercipta persaingan, sehingga harga akan semakin kompetitif. Swasta juga harus bisa masuk ke listrik," ujarnya.
Selama ini, ketika sebuah sektor dimonopoli, masyarakat konsumen tidak bisa berbuat banyak. "Perusahaan-perusahaan yang memonopoli itu sering mengaku rugi untuk menaikkan harga," ungkapnya.
Sofjan meminta agar pemerintah memperhatikan hal tersebut. Menurut dia, hal itu tidak terkait dengan persoalan nasionalisme atau isu-isu kebangsaan lainnya.
Sementara itu, Division Head Public Relation PT Indosat Tbk Adita Irawati menyatakan, pihaknya menyambut baik penurunan tarif SLJJ oleh Telkom tersebut. Sebagai kompetitor, kata dia, Indosat merasa tidak terlambat untuk start. "Kami kan masih hanya diizinkan untuk bermain di Balikpapan setelah kode akses di sana dibuka per 3 April lalu," ujarnya kemarin (7/4).
Sebaliknya, kata dia, penurunan tarif SLJJ tersebut menjadi bukti nyata bahwa monopoli adalah bentuk persaingan yang tidak sehat. Begitu kode akses dibuka bagi Indosat, meski hanya untuk Balikpapan, Telkom langsung berinisiatif menurunkan tarif. "Ketika Telkom langsung menurunkan tarif, itu menjadi bukti bahwa kompetisi ini efektif," tegasnya.
Ke depan, dalam bisnis SLJJ ini, jelas Adita, Indosat sudah menyiapkan desain pemasarannya. Termasuk, kemungkinan penurunan tarif dan peningkatan layanan lainnya. Dengan demikian, iklim kompetisi akan benar-benar nyata. "Secara paralel, kami sudah menyiapkan hal itu, termasuk nanti menurunkan tarif. Sementara kami masih pakai tarif lama," jelasnya.
Kondisi tersebut akan terjadi begitu 23 kode akses di kota lainnya yang dijanjikan pemerintah dibuka untuk Indosat. "Kode akses kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Batam, Medan, Semarang, dan sebagainya secara bertahap akan dibuka."
Kapan kode akses tersebut dibuka? Itu bergantung ketegasan pemerintah yang menjanjikan hingga 2011. "Yang jelas, Indosat siap kapan saja. Prinsipnya, kami ingin segera lebih cepat. Infrastruktur Indosat sudah siap semua," tegasnya.
Adita menyatakan, kesiapan infrastruktur tersebut nanti membuat Indosat tidak perlu lagi mengeluarkan belanja modal. "Memang, ini tergolong bisnis baru bagi Indosat karena baru efektif per 3 April. Tapi, kami sebenarnya sudah menyiapkan infrastruktur sejak lama, sejak awal kami dapat lisensi pemerintah (2004, Red)," ungkapnya.
Indosat, kata dia, tinggal menggunakan infrastruktur yang sudah ada. (eri/kim)
Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo menyatakan, penurunan tarif tersebut memang bagus. Namun, ketika kepemilikan saluran telepon tetap (fixed line) di masyarakat terus menurun, tentu imbasnya tidak seberapa dirasakan konsumen pengguna jasa layanan telekomunikasi.
"Selama ini kan penetrasi penggunaan telepon seluler masih sangat besar dibandingkan telepon rumah," ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (7/4).
Menurut dia, seharusnya tarif telepon rumah lebih murah dibandingkan saluran seluler. "Dan saat ini hal itu belum terwujud," ungkapnya.
Contohnya, untuk percakapan zona 1 (30-200 kilometer) antara telepon rumah ke seluler pada pukul 08.00-20.00, tarifnya Rp 550 per 20 detik. Berarti, tarif per menit Rp 1.650. Begitu pula untuk telepon rumah ke telepon rumah. Pada zona 1 antara pukul 07.00-20.00, tarifnya mencapai Rp 1.100 per menit. Padahal, telepon lewat saluan seluler bisa lebih murah daripada tarif tersebut. "Karena itu, setidaknya telepon rumah itu harus lebih murah daripada ponsel," tegasnya.
Sudaryatmo menyatakan, manfaat penurunan tarif SLJJ oleh Telkom tersebut hanya dirasakan secara terbatas. Di samping turunnya tidak signifikan, penguasaan telepon rumah oleh masyarakat masih minim. "Turunnya kan rata-rata kecil. Hanya yang besar hingga 46 persen itu yang ditonjolkan di media massa," katanya.
Di tempat terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengungkapkan, penurunan tarif SLJJ tersebut setidaknya akan mengurangi beban dunia industri yang kini sedang mengalami banyak kesulitan akibat melambungnya harga minyak dan sulitnya pasokan energi alternatif dari dalam negeri. "Ya semoga saja di tengah banyaknya kesulitan, penurunan tarif tersebut akan mampu menggairahkan perekonomian, meski saya kira tidak akan signifikan," ujarnya kemarin (7/4).
Menurut dia, hampir semua sektor industri mempunyai kepentingan terhadap telekomunikasi, mulai industri makanan, semen, alat berat, hingga pertambangan. Kepentingan sektor industri terhadap telekomunikasi, kata Sofjan, terkait dengan persoalan distribusi produk hingga ke seluruh pelosok tanah air. "Kan banyak perusahaan dengan cabang-cabang di seluruh Indonesia. Kita kan berkomunikasi mulai pagi hingga malam untuk mengatur distribusi barang," jelasnya.
Meski demikian, dia meminta agar tarif telepon tersebut terus diturunkan. "Laba mereka kan sudah banyak setiap tahun. Apalagi, teknologi kian canggih. Ke depan harus lebih murah," tegasnya.
Pengusaha, kata dia, juga terus mendorong agar monopoli Telkom terus dikurangi. Begitu pula untuk sektor lain seperti PLN. "Dengan pengurangan monopoli tersebut, otomatis akan tercipta persaingan, sehingga harga akan semakin kompetitif. Swasta juga harus bisa masuk ke listrik," ujarnya.
Selama ini, ketika sebuah sektor dimonopoli, masyarakat konsumen tidak bisa berbuat banyak. "Perusahaan-perusahaan yang memonopoli itu sering mengaku rugi untuk menaikkan harga," ungkapnya.
Sofjan meminta agar pemerintah memperhatikan hal tersebut. Menurut dia, hal itu tidak terkait dengan persoalan nasionalisme atau isu-isu kebangsaan lainnya.
Sementara itu, Division Head Public Relation PT Indosat Tbk Adita Irawati menyatakan, pihaknya menyambut baik penurunan tarif SLJJ oleh Telkom tersebut. Sebagai kompetitor, kata dia, Indosat merasa tidak terlambat untuk start. "Kami kan masih hanya diizinkan untuk bermain di Balikpapan setelah kode akses di sana dibuka per 3 April lalu," ujarnya kemarin (7/4).
Sebaliknya, kata dia, penurunan tarif SLJJ tersebut menjadi bukti nyata bahwa monopoli adalah bentuk persaingan yang tidak sehat. Begitu kode akses dibuka bagi Indosat, meski hanya untuk Balikpapan, Telkom langsung berinisiatif menurunkan tarif. "Ketika Telkom langsung menurunkan tarif, itu menjadi bukti bahwa kompetisi ini efektif," tegasnya.
Ke depan, dalam bisnis SLJJ ini, jelas Adita, Indosat sudah menyiapkan desain pemasarannya. Termasuk, kemungkinan penurunan tarif dan peningkatan layanan lainnya. Dengan demikian, iklim kompetisi akan benar-benar nyata. "Secara paralel, kami sudah menyiapkan hal itu, termasuk nanti menurunkan tarif. Sementara kami masih pakai tarif lama," jelasnya.
Kondisi tersebut akan terjadi begitu 23 kode akses di kota lainnya yang dijanjikan pemerintah dibuka untuk Indosat. "Kode akses kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Batam, Medan, Semarang, dan sebagainya secara bertahap akan dibuka."
Kapan kode akses tersebut dibuka? Itu bergantung ketegasan pemerintah yang menjanjikan hingga 2011. "Yang jelas, Indosat siap kapan saja. Prinsipnya, kami ingin segera lebih cepat. Infrastruktur Indosat sudah siap semua," tegasnya.
Adita menyatakan, kesiapan infrastruktur tersebut nanti membuat Indosat tidak perlu lagi mengeluarkan belanja modal. "Memang, ini tergolong bisnis baru bagi Indosat karena baru efektif per 3 April. Tapi, kami sebenarnya sudah menyiapkan infrastruktur sejak lama, sejak awal kami dapat lisensi pemerintah (2004, Red)," ungkapnya.
Indosat, kata dia, tinggal menggunakan infrastruktur yang sudah ada. (eri/kim)