[ Lirik ]
by Dhoni Saputra
@ 27.02.2008 08:19 CEST
Peliharakanlah Aku
Untuk Selalu Bersujud
DihadapanMu Sang Satu
Menghilangkan Satu Wujud
Terang Hilang Satu kerusakan
Gelap Sudah Kini Kurasakan
Sematkanlah Aku Terus
Dalam Kedamaian Hidup
Perhatikan Aku Terus
Menjalani Satu Hidup
Terang Hilang Satu kerusakan
Gelap Sudah Kini Kurasakan
Kegelapan Surga Telah Merasuk
Kegelapan Surga Mendera Jiwa
Aku benci sahabat, aku benci keluarga, aku benci cinta, aku benci hidup aku benci semesta, aku benci hidup. Aku cinta kesendirian, aku cinta musuh, aku cinta mati dan aku cinta aku. Dilema, itu yang kurasakan sekarang, aku benci cinta tetapi aku cinta kata cinta. Aku benci sahabat, tetapi aku butuh sahabat. Aku enci keluarga, tetapi aku merindukan mereka, aku benci hidup , tetapi aku masih menginginkan nafas. Aku cinta kesendirian tetapi aku butuh kekerabatan, aku cinta musuh tetapi aku ingin teman. Hanya satu yang bukan dilema, aku cinta aku. Aku mencintai diriku melebihi kecintaanku akan semesta, aku sangat memiliki diriku sampai aku lupa aku butuh bersentuhan dengan yang lainnya. Aku menangis dalam kesusahan, aku kehilangan arah, aku tersesat, aku ditinggalkan oleh dunia. Aku bermasalah, aku gila dan aku bercerita.
Dengan rasa sedih dan luka aku menulis, dengan perasaan resah aku bercerita. Aku bosan dengan stagnasi, aku bosan menghadapi masalah, aku kehilangan.
Aku melarut dalam hitam, aku mengkristal terhadap senyum, aku mengindahkan kebahagiaan, aku merasa hilang.
Aku butuh pelukan….. aku butuh kehangatan… aku butuh perhatian, aku butuh kasih sayang… aku butuh pemecahan… aku butuh Tuhan.
Apakah semua orang mengenali apa itu dosa? Ini bukanlah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, pastilah semua tahu apa itu dosa. Sebuah konsepsi akan kesalahan hasil doktrinasi primordial yang mengakar dalam diri manusia. Apa yang menyebabkan kita berdosa? Apa yang menemani dosa? Kita mendapatkan jawabannya dari buku suci, salah satunya adalah naluri (dibaca: nafsu). Nafsu merupakan bagian dari makhluk hidup yang sangat sempurna hingga tidak ada rongga sedikitpun baginya untuk kata salah. Nafsu yang telah membuat setiap makhluk hidup di alam semesta ini dapat bernafas sampai sekarang dan setia menemani kita (dibaca: makhluk hidup) menghembuskan nafas terakhirnya.
Nafsu telah berbaik hati menyangga tiang kehidupan kita dalam suka maupun duka. Dia dapat membuat kita berlaku baik dan sebaliknya dia juga dapat membuat kita lupa akan kebaikan itu. Ironi memang jika dia selalu dijadikan kambing hitam kesalahan yang telah kita putuskan dalam hidup. Kesalahan ini bukan miliknya, tetapi milik si pembuat keputusan yang sudah sangat bijak memilih dan menjalani keputusannya. Tapi apakah si pembuat kesalahan itu tega untuk menyalahkan dirinya? Tidak mungkin. Dibutuhkan energi yang sangat besar untuk mengeyahkan rasa keakuan diri yang menghalangi kita untuk menyalahi diri sendiri atas kesalahan yang telah diperbuatnya.
Nafsu telah menjadi alat kekuasaan manusia untuk menguasai alam semesta dan dengan semena-mena memonopoli sumber daya yang ada untuk pemuasan dirinya. Ini salah? Jawabannya tidak. Semua yang telah kita putuskan dan lakukan selama ini tidaklah salah, setidaknya bagi kita. Apa yang membuat tindakan atau pustusan kita salah? Semua hanya dikarenakan kita telah terikat oleh keputusan bersama yang telah menghasilkan rumusan tentang benar dan salah. Ya benar, kebenaran dan keslahan yang kita terima maupun perbuat, itu adalah Keputusan Bersama. Apakah kita menyepakati hal yang sama dengan hasil keputusan itu? Tanyalah ke dalam diri kita, maka terkuaklah segala rahasia tentang sejatinya hidup.